free counter with statistics 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 1
T1/11/2015

33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 1

Iklan
Iklan
Muesum atau Monumen Bajra Sandi terletak di tengah-tengah lapangan Puputan Nitimandala Renon, tepatnya di jalan Raya Puputan Niti Mandala di Renon. Lokasi monumen ini juga sangat strategis karena terletak di depan kantor Gubernur Bali dan Gedung DPRD Provinsi Bali. Objek Wisata Monumen Perjuangan Rakyat Bali memiliki keunikan tersendiri, di mana jika Anda masuk ke dalamnya dengan melewati tangga berpilin mana Anda akan bisa menyaksikan kota Denpasar yang indah.

Monumen ini juga sering disebut sebagai museum, karena di dalam monumen ini tersimpan koleksi pada jaman sebelum kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. Monumen ini memiliki koleksi 33 diorama berukuran 2 x 3 meter. Berikut ke 33 diorama tersebut.
 Diorama 1 sampai 4 Di Museum Bajra Sandi
1. Bali Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan 3000 SM
Ini merupakan diorama paling awal, di mana diorama ini menceritakan kehidupan manusia Bali pada tahun 3000 SM atau zaman prasejarah. Terlihat manusaia purba phitecanthropus erectus atau dikenal dengan manusia kera berjalan tegak yang sedang berburu dengan peralatan sederhana.

2. Bali Pada Masa Perundagian 2000 SM
Diorama ini mencertikan kehidupan manusia Bali pada tahun 2000 sebelum Masehi atau dikenal dengan massa perundagian. Di mana pada masa itu sudah mengenal peralatan yang berbahan logam dengan teknik pengecoran. Dalam diorama ini juga terlihat masyarakat bali sudah mengenal sistem penguburan mayat yang disimpan ke dalam sarkopagus atau peti mati yang terbuat dari batu.

3 Stupika dan Prasasti Sukawana 778 M
Diorama ke tiga ini menceritakan kehidupan manusia Bali pada zaman sejarah, karena sudah ditemukan bukti-bukti sejarah yang berupa tulisan seperti ditemukannya stupika tanah liat yang berisi mantra-mantra Budha di sekitar Pejeng, Bedulu pada tahun saka 700 (778 M) dan di temukannya prasasti tembaga yang berangka tahun saka 804 (882 M) di simpan di Pura Desa Sukawana, Kintamani, Bangli. Pada diorama tampak para pendeta sedang bersemedi di ceruk-ceruk dan tampak pula seorang pendeta keluar dari pasraman.

4. Rsi Markandeya Abad Ke 8
Pada diorama ini menceritakan Rsi Markandeya sedang menyerahkan panca datu kepada pengiringnya dengan latar belakang kesibukan di Desa Taro Gianyar membangun Bale Agung. Rsi Markandeya adalah seorang pertapa dari Pegunungan Dieng, Jawa Tengah yang melakukan perjalanan ke arah timur hingga sampai di desa Taro Gianyar, Bali.  Dalam expedisi tersebut beliau mengajak 800 pengikut dan banyak pengikut Rsi Markandeya yang sakit dan meninggal, kemudian beliau kembali ke Pulau Jawa. Pada ekspedisi kedua beliau mengajak kurang lebih 400 orang pengikut. Pada ekspedisi ke dua beliau sampai pada suatu tempat berupa batu berundak di lereng Gunung Agung. Untuk menghindarkan para pengikutnya dari petaka, maka Rsi Markandeya membuat tugu dengan menanam Panca Datu atau  5 jenis logam yaitu  emas, perak, besi, kuningan dan tembaga disertai upacara korban suci. Tempat tersebut di bangun pura dan diberi nama Besukih atau Besukian yang artinya tempat suci, dan sekarang menjadi Pura Besakih.
  
Diorama 5 sampai 8 Di Museum Bajra Sandi


5. Sri Kesari Warmadewa 914 M
Pada diorama ini menceritakan Sri Kesari Warmadewa sedang menyaksikan pembuatan tugu kemenangan “jayastamba” di Blanjong, Sanur atau dikenal dengan mana prasasti Blanjong. Dalam Prasasti Blanjong menyebutkan kemenangan Sri Kesari Warmadewa yang memerintah pada tahun 914 M dalam menghadapi musuh di daerah Gurun dan Suwal. Untuk memperingati kemenangan itu, Beliau mendirikan tugu kemenangan yaitu di Desa Blanjong, Sanur, Denpasar dan Pura Puseh Malet Gede, Desa Penempahan, Tampak Siring Gianyar.

6. Gunapriyadharmapatni dan Suaminya Dharmodayana Warmadewa 989-1011 M
Diorama ini menceritakan Gunapriyadharmapatni bersama suaminya Dharmodayana Warmadewa sedang dihadap oleh pembesar kerajaan di Balairung. Gunapriyadharmapatni atau dikenal dengan nama Sri Mahendradata merupakan puteri raja Makuta Wangsa Wardana, Raja Jawa Timur. Setelah menikah dengan pangeran dari Pulau Bali beliau bergelar Sri Ratu Gunapriya Dharmapatmi dan suaminya bergelar Sri Dharmodayana Warmadewa. Pada masa itu kehidupan ketatanegaraan dan keagamaan berjalan dengan baik, terutama setelah kedatangan seorang pendeta dari Jawa bernama Empu Kuturan.

7. Konsep Kahyangan Tiga Dari Empu Kuturan Abad 11 M
Dalam diorama ini tampak Bale Agung, Meru, dan Mrajapati sebagai simbol dari Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem. Ketiga konsep tersebut dikenal dengan nama Kahyangan Tiga yang diajarkan oleh Mpu Kuturan seorang pendeta dari Jawa Timur yang datang ke Bali pada masa pemerintahan Sri Ratu Gunapriya Dharmapatni. Beliau diangkat menjadi pendeta istana sekaligus sebagai senopati dan penasehat di bidang ketatanegaraan. Kedatangan Empu Kuturan di Bali menata dan menyempurnakan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan diantaranya di bidang adat-istiadat.

8. Kehidupan Banjar Abad  11 M
Pada diorama ini terlihat suasana kehidupan masyarakat Bali pada abad ke 11 M yaitu kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, warga sering mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh kelihan banjar yang dihadiri oleh para prajuru (pengurus) banjar dan krama (anggota) banjar.

Sejak pemerintahan Raja Ugrasena di Bali, setiap warga mempunyai fungsi dan kewajiban masing-masing yang menjadi ikatan tanggung jawab terhadap banjar maupun kerajaan. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir di Gelgel, penataan kehidupan banjar ini semakin ditingkatkan dengan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali yang dikenal dengan nama Paruman Agung yang dihadiri oleh para Prajuru Banjar dengan memperbincangkan masalah adat dan kesejahteraan krama banjar. Paruman Agung ini mula-mula diselenggarakan di Pura Besakih. Setelah Pura Dasar Buana dibangun di Gelgel, kegiatan paruman dilangsungkan di Pura ini.

Nah demikian 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 1 untuk 33 diorama berikutnya silahkan baca 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 2.
Iklan