free counter with statistics Upacara Pembakaran Mayat (Ngaben) di Bali
T8/08/2014

Upacara Pembakaran Mayat (Ngaben) di Bali

Iklan
Iklan
Kita terlahir ke dunia membawa tiga hutang yang dikenal dengan nama tri rna (tiga hutang). Salah satu dari ketiga hutang tersebut adalah berhutang kepada kepada leluhur atau orang tua. Kita berhutang kepada leluhur atau orang tua karena beliau telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kita sehingga menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan negara. Hutang kepada leluhur atau orang tua dalam masyarakat Bali khususnya umat Hindu dikenal dengan nama Pitra Rna. Hutang ini harus dibayar dengan melakukan pengorbanan suci yang tulus ikhlas dan dikenal dengan istilah Yadnya.  

Pengorbanan suci dan tulus ikhlas kepada leluhur atau orang tua disebut dengan Pitra Yadnya. Salah satu contoh pelaksanaan Pitra Yadnya adalah upacara Ngaben. Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali. Tujuan dari upacara ngaben adalah mengembalikan lima unsur-unsur yang ada dalam diri orang yang meninggal ke alam. Adapun kelima unsur tersebut yakni api, air, tanah udara dan hampa udara (eter). Selain mengembalikan kelima unsur tersebut, upacara ngaben juga bertujuan untuk mensucian roh leluhur orang yang sudah wafat untuk menuju ke tempat peristirahatan terakhir dan merupakan perwujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan.

Kata Ngaben sendiri berasal dari urat kata “abu”, kemudian disandikan menjadi kata “ngabuin” yang artinya menjadikan abu. Jadi untuk menjadikan abu, orang yang sudah meninggal dunia jasadnya harus dibakar. Upacara Ngaben dilakukan dengan beberapa rangkaian upacara, yang terdiri dari  berbagai rupa sesajen dengan tidak lupa dibubuhi simbol-simbol layaknya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu di Bali. Upacara Ngaben biasanya dilakukan secara besar-besaran, sehingga untuk mempersiapkannya memerlukan waktu yang lama, tenaga yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit, sehingga upacara Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian.

Pada masa sekarang ini masyarakat Hindu di Bali sering melakukan upacara Ngaben secara massal, yang tujuannya untuk menghemat biaya. Untuk mengikuti upacara ngaben massal, jasad orang yang meninggal untuk sementara dikebumikan terlebih dahulu sampai biaya mencukupi baru di laksanakan. Akan tetapi, bagi orang dan keluarga yang mampu, upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dan jasad disemayamkan terlebih dahulu di rumah untuk menunggu waktu yang baik. Ada anggapan, bahwa kurang baik bila penyimpanan jasad terlalu lama di rumah, karena roh orang yang meninggal tersebut menjadi bingung dan tidak tenang dan dia merasa berada hidup diantara dua alam serta selalu  ingin cepat dibebaskan.
 
Salah satu anggota tim long trip mania
melakukan foto-foto di "bade"
Pelaksanaan Ngaben itu sendiri harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan pendeta (sulinggih) untuk menetapkankan kapan hari baik untuk melakukan upacara tersebut. Sambil menunggu hari yang baik, biasanya pihak keluarga dan dibantu masyarakat beramai ramai melakukan persiapan tempat pengusungan, pembakaran mayat dan peralatan lain yang diperlukan. Tempat pengusungan mayat ini disebut dengan nama “Bade” dan akan diarak-arak sampai ke kuburan. Sedangkan tempat pembakaran mayat biasanya berbentuk binatang, misalnya lembu, singa, angsa dan lain sebagainya yang terbuat dari bambu, kayu, dan kertas warna-warni.
 
"Bade" tempat pengusungan jenazah
Pada saat upacara ngaben akan dilaksanakan, pada pagi hari seluruh keluarga dan masyarakat akan berkumpul dan jasad terlebih dahulu dimandikan. Biasanya proses pemandian jasad ini dipimpin oleh seorang sulinggih atau orang dari golongan kasta Brahmana. Setelah proses pemandian jasad selesai dilakukan, mayat  dirias dengan mengenakan pakaian adat Bali, lalu semua anggota keluarga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dan diiringi doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh kedamaian dan berada di tempat yang lebih baik.

Mayat yang sudah dimandikan dan mengenakan pakaian adat Bali tersebut diletakan di dalam “Bade” lalu diusung secara beramai-ramai ke tempat pembakaran jenazah. Arak-arakan yang menghantar kepergian jenazah diiringi bunyi gamelan dan kidung suci. Pada sisi depan dan belakang “Bade” yang diusung terdapat kain putih yang mempunyai makna sebagai jembatan penghubung bagi sang arwah untuk dapat sampai ke tempat asalnya.
 
"Bade" diarak-arak menuju tempat pemabkaran jenazah
Setelah sampai di lokasi tempat pembakaran yang sudah disiapkan (kuburan) kemudian mayat dimasukan di dalam “replika berbentuk binatang” yang sudah disiapkan sebelumnya. Sebelum tempat pembakaran jenazah dibakar terlebih dahulu dibacakan mantra dan doa oleh pendeta (sulinggih) dan akhirnya replika berbentuk binatang sebagai tempat jenazah dibakar sampai menjadi abu. Sisa abu dari pembakaran mayat tersebut dimasukan ke dalam buah kelapa gading (kuning) lalu kemudian dihayutkan ke laut atau sungai.
 
Tempat pembakaran jenazah berbentuk lembu hitam

Setelah upacara ngaben selesai dilakukan biasanya diikuti dengan upacara potong gigi. Akan tetapi upacara potong gigi ini tidak harus mesti dilakukan pada saat upacara ngaben selesai, bisa juga dilakukan secara terpisah dalam waktu yang berbeda dan tergantung kemampuan seseorang untuk mengikuti upacara ini.
Iklan