free counter with statistics 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 3
T1/11/2015

33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 3

Iklan
Iklan
Postingan 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 3 ini merupakan lanjutan dari 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 2. Oke langsung saja ke intinya.

Diorama ke 17-20 Di Museum Bajra Sandi


17. Perang Jagaraga 1848 – 1849 M
Pada diorama itu menceritakan perlawanan rakyat Bali di bawah pimpinan Patih Jelantik melawan tentara Belanda di depan Benteng Jagaraga. Pada tanggal 28 Juni 1846 Belanda berhasil menguasai pusat kerajaan Buleleng, kemudian atas desakan Patih Jelantik raja Buleleng telah mengambil keputusan untuk mengundurkan pasukannya ke desa Jagaraga serta menetapkan untuk menggunakan Jagaraga sebagai benteng pertahanan dan sebagai ibukota kerajaan yang baru. Pada tanggal 8 Juni 1848, Belanda mulai mengadakan serangan terhadap daerah Jagaraga dengan menghujankan tembakan-tembakan meriam dari pantai Sangsit. Pada serangan ini pasukan belanda berhasil mendesak pasukan Buleleng sehingga terjepit dan patih Djelantik beserta pasukannya mundur kemudian Patih Djelantik terbunuh dalam perjalanan ke Karangasem. Sedangkan, istrinya Jero Jempiring gugur dalam peperangan.

18. Perang Kusamba 1849 M
Dalam diorama ini menceritakan Laskar Kusamba di bawah pimpinan I Dewa Agung Putra Kusamba menyerang kubu pertahanan Belanda di bawah pimpinan Jendral Andreas Victor Michiels di dekat pesisir pantai Kusamba. Dalam penyerangan tersebut Jendral Andreas Victor Michiels Michiels terbunuh dan akhirnya pasukan Belanda mundur. Peperangan ini terjadi setelah belanda berhasil menaklukan kerajaan Buleleng, kemudian berniat menguasai Kerajaan Klungkung juga.

19. Perlawanan Rakyat Banjar 1868 M
Setelah Kerajaan Buleleng berhasil dikuasai oleh Belanda dalam Perang Jagaraga pada tanggal 18 April 1849. Maka mulailah kekuasaan Belanda di Buleleng. Kemudian terjadi perlawanan terhadap kekuasaan belanda di bawah pimpinan Ida Made Rai, maka terjadilah pertempuran rakyat Banjar. Dalam perang ini, dua kali kemenangan berada di pihak laskar Banjar yang hanya bersenjatakan tombak, tetapi pada akhirnya dapat dikalahkan oleh pihak Belanda.

20. Puputan Badung 1906 M
Dalam diorama ini menceritakan Raja Badung bersama semua keluarga dan rakyatnya dengan berpakaian serba putih bertekad untuk melawan Belanda sampai mati. Tekad seperti ini dikenal dengan istilah “Puputan”. Perang ini berawal karena pihak Belanda menyatakan bahwa kapal dagang Srikomala yang terdampar di pantai sanur pada tanggal 27 Mei 1904 yang membawa banyak barang yang berharga dan dinyatakan hilang karena dicuri dan dirampok oleh penduduk sekitar. Padahal penduduk sekitar memberikan pertolongan kepada kapal tersebut. Pada tanggal 20 September 1906, pagi-pagi buta kota Denpasar dihujani tembakan meriam dari Belanda dari pantai Sanur. Raja Badung yang telah bertekad dengan seluruh keluarganya beserta prajurit dan rakyat melakukan “perang puputan” (perlawanan sampai titik darah penghabisan).

Diorama ke 21-24 Di Museum Bajra Sandi


21. Persiapan Sagung Wah Melawan Belanda 1906 M
Pada diorama ini menceritakan tenang semangat Sagung Wah yang mengebu-gebu dan memberi perintah kepada laskar Tabanan untuk menghadapi serangan tentara Belanda. Peritiwa ini terjadi setelah jatuhnya Kerajaan Badung dalam perang Puputan Bandung ke tangan Belanda pada tanggal 20 september 1906, kemudian Belanda melanjutkan serangan ke Kerajaan Tabanan. Raja Tabanan beserta para pengikutnya menyerah dan sebagian diasingkan ke Lombok. Akan tetapi, salah seorang saudara perempuan raja Tabanan yg bernama Sagung Wah melarikan diri ke Desa Wongaye Gede. Di sana Sagung Wah menghimpun kekuatan melawan Belanda, namun kekuatan laskar sagung wah dapat diporakporandakan dan beliau di asingkan ke Pulau Lombok.

22. Puputan Klungkung 1908 M
Pada diorama ini menceritakan perlawanan Laskar Klungkung di bawah pimpinan raja Klungkung I Dewe Agung Jambe melawan serdadu Belanda di depan puri Klungkung. Hampir semua keluarga raja gugur bersama pengikutnya. Perang Puputan Klungkung menandai jatuhnya seluruh wilayah Bali secara total ke tangan Belanda. Klungkung memang menjadi kerajaan terakhir yang takluk di kaki Belanda. Perang Puputan Klungkung juga sekaligus mematahkan mitos yang menyebutkan Indonesia, termasuk Bali, dijajah Belanda selama 350 tahun. Peristiwa Perang Puputan Klungkung menegaskan Bali dijajah hanya selama beberapa puluh tahun, bahkan Klungkung dijajah selama sekitar 37 tahun.

23. Bangkitnya Organisasi Pemuda Di Bali 1923 M – 1928 M
Dalam diorama ini menceritakan kegiatan rapat yang dilakukan para pemimpin pemuda dari kalangan guru, pegawai, dan tokoh masayrakat di salah satu ruangan sekolah. Dengan didirikannya sekolah-sekolah di Bali sebagai tuntutan politik etis Belanda, masyarakat mulai sadar akan pentingnya pendidikan. Dari kesadaran tersebut golongan terpelajar mendirikan perkumpulan Suita Gama Tirta yang dipimpin I Gusti Putu Djelantik pada tahun 1917 dan mulai saat itu tumbuh organisasi -organisasi pemuda di Bali.

24. Bali Di Bawah Fasisme Jepang 1942 – 1945
Pada diorama ini menceritakan Rakyat Bali melakukan kerja paksa di bawah siksaan tentara Jepang, seperti membuat jalan dan mengangkut kebutuhan perang Jepang dalam melawan tentara sekutu.

Nah demikian 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 3 untuk 33 diorama berikutnya silahkan baca 33 Diorama Di Museum Bajra Sandi Bagian 4.
Iklan